Pentingnya Sastra di Pedesaan   Leave a comment


Ketika di sana-sini dilentangkan bahwa sastra Indonesia dan derah harus digerakkan di kalangan akademis, seperti mahasiswa dan siswa, sebenarnya ada yang terlupa dari semangat yang meluap-luap itu. Apa yang terlupa? Mereka yang menyokong semangat menggeliatkan sastra di kalangan akademis rupanya agak terlena bahwa hanya anak-anak kota, yang notabene mengenal modernisasi, yang mereka acuhkan.

Seakan-akan kalangan akademis yang tinggal di desa lantas dibiarkan saja utnuk tidak mengenal sastra secara lebih mendalam. Penggerak sastra, secara mayoritas, lebih senang bergiat di antara anak-anak kota. Sebagai contoh, untuk suatu lomba penulisan saja publikasi kebanyakan di internet, sedangkan anak-anak di pedesaan baru mengenal lebih mendalam tentang internet.

Mayoritas anak-anak desa lebih gemar bermain game dan jejaring sosial di internet daripada mencari informasi di internet. Kalaupun mereka mencari informasi lewat internet, paling hanya disuruh oleh guru mereka, dan selebihnya mereka tidak tertarik lagi mencari informasi penting di internet. Lalu bagaimana sastra bisa masuk di jiwa anak-anak ini bila untuk suatu publikasi lomba sastra saja hanya lewat internet?

Budaya sastra di pedesaan masih didominasi oleh sastra lisan. Padahal, hanya kalangan dewasa saja yang mengerti dan menguasai tentang sastra lisan di pedesaan. Ketika internet merambah Indonesia, budaya sastra lisan makin tergulung dalam budaya tulis yang makin berkembang. Apalagi dengan adanya email yang memudahakan mereka mengirim naskah ke media lewat email, lalu dilanjutkan dengan tradisi blog, dan yang termutakhir adalah sastra cyber.

Kalau demikian kenyataannya, tentu aanak pedesaan akan semakin terpuruk dalam hal sastra. Perkembangan sastra di negeri ini janganlah sampai timpang, tetapi haruslah merata. Lalu, pertanyaan terpenting dari pembeberan di atas itu adalah bagaimana sikap kritis para penggerak sastra terhadap kalangan akdemis yang tinggal di pedesaan? Inilah pokok pertanyaan yang ahrus dijawab dengan tindakan nyata sepenuh hati.

Para penggerak sastra ini haruslah sadar dan mau peduli dengan kondisi sastra di pedesaan. Desa adalah suatu wilayah yang memiliki kekayaan kearifan lokal. Sastra sebagai perwujudan dari budaya dari suatu masyarakat harus mampu membantu mengembangkan kearifan lokal tersebut. Sehingga pada nantinya sastra tidak hanya berkembang di daerah perkotaan saja, daerah yang kenyang akan modernisasi, tetapi juga sastra harus berkembang di lahan yang kaya akan kearifan lokal.

Alternatif bagi para penggerak sastra ini salah satunya bisa dilakukan dengan mengadakan workshop tentang penulisan kreatif bagi siswa-siswa di kalangan pedesaan.  Dengan workshop ini diperkenalkan tentang pentingnya menulis, hal-hal apa saja yang menarik dari kegiatan tulis-menulis. Dengan kegiatan ini para siswa juga diperkenalkan dengan dunia sastra. Sehinga nantinya, para siswa itu dapat mengembangkan diri dalam hal sastra secara lebih aktif.

Mau tidak mau inilah tantangan yang harus digarap dengan kepastian yang nyata oleh para penggerak maupun pegiat sastra agar sastra. Kita tentu saja menginginkan masyarakat yang berbudaya bukan masyarakat yang menghamba pada budaya hasil adopsi tanpa seleksi. Melalui penggeliatan sastra di kalangan pedesaan, mari kita bangun bangsa yang berbudaya tinggi bersumber dari kearifan lokal negeri sendiri.

Posted Desember 9, 2010 by btarakawi in Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: