Mempersoalkan Budaya Membaca   Leave a comment

Membaca adalah sesuatu yang urgen. Saking urgennya, sampai-sampai pemerintah dengan gencar mengeluarkan slogan, ajakan agar masyarakat gemar membaca. Ajakan dari pemerintah tersebut tentunya adalah hal yang sangat positif dan memang perlu ditanggapi secara positif pula.

Proyek pengadaan buku yang sebelum adanya kesadaran dari pemerintah kurang tanggap terhadap masyarakat, kini kian “lunak” saja dalam menerbitkan buku sebgai bahan bacaan rakyat. Tidak Cuma itu, bahkan lewat TV pun, pemerintah ikut “nimbrung” mengajak masyarakat untuk membudayakan membaca.

Budaya adalah sesuatu yang dilakukan oleh manusia sejak bangun hingga tidur. Budaya terbentuk karena dibiasakan. Persoalan utama dari pemebentukan sutau kebudayaan adalah pembiasaan. Bagaiman cara membuat sesuatu menjadi hal yang biasa dilakukan dan membudaya itulah pokok kuncinya.

Budaya di Indonesia amat bergantung dari pemimpinnya. Ketika seorang pemimpin berkata “A”, maka yang dipimpin pun akan patuh, entah itu secara sukarela maupun terpaksa. Akan tetapi, membuat yang dipimpin lebih “lunak” lagi dalam menuruti perintah apabila pemimpin memberikan contoh. Artinya pemimpin harus mau dan mampu membuat teladan bagi yang dipimpinnya sehingga dengan kesukarelaan, yang dipimpinnya mengikuti ajakannya.

Ajakan pemerintah untuk membiasakan diri membaca, membudayakan membaca agaknya bisa disesuaikan dengan iklim budaya di Indonesia seperti yang dijelaskan diatas. Dengan  kata lain, mereka yang mempunyai wewenang di bidang pendidikan mampu memberi teladan dalam hal kebiasaan membaca.

Mengapa dipilih pendidikan? Tak lain karena lewat pendidikanlah buku, sebagai sumber bacaan, diditribusikan dan dianjurkan untuk dibaca. Terlalu rumit bila harus langsung mengajak masyarakat secara langsung karena iklim budaya Indonesia yang demikian adanya. Lewat para siswalah, yang juga merupakan bagian dari masyarakat, kebiasaan tersebut mampu dibudayakan.

Lalu, siapakah yang berwenang dalah hal bidang pendidikan? Mereka itu adalah para pengambil kebijakan pendidikan, dan juga para guru. Mereka itu mempunyai kewajiban untuk memberi teladan kebiasaan membaca, bukan hanya menggembar-gemborkan untuk membiasakan membaca. Untuk apa memberi ajakan terus menerus tanpa memberi teladan. Bukankah itu seperti paksaan secara halus?

Mungkin para pengambil kebijakan pendidikan perlu mengadakan kegiatan yang mampu membangkitkan minat baca siswa, misalnya dengan mengadakan lomba resensi buku. Dengan adanya lomba resensi buku, mau tak mau siswa pasti membaca suatu buku yang hendak diresensi. Dengan membaca secara tuntas terhadap buku, mungkin ada sedikit harapan tentang peningkatan minat baca.

Guru pun tak kalah penting dalam hal pemberian teladan. Malah possisi guru dalam pemberian teladan ini paling urgen di antara yang lain. Hal ini karena guru itu berhadapan serta berinteraksi dengan siswa setiap hari.

Guru dapat memberi teladan untuk rajin membaca. Misalnya, secara berkala mengajak siswa ke perpustakaan untuk membaca bersama-sama. Saat ini perpustkaan terlalu dibiarkan “mandiri”, siswa ke perpustakaan hanya bila ada tugas. Atau paling tidak untuk melihat televisi.

Dengan mengajak siswa ke perpustakaan dan membaca bersama, lambat laun  akan timbul perasaan bahwa kegiatan yang dilakukan direspon secara baik oleh guru dan tentu saja ini dapat membangkitkan motivasi siswa untuk tmembisakan diri membaca.

Posted Desember 10, 2010 by btarakawi in Esai

Pentingnya Sastra di Pedesaan   Leave a comment

Ketika di sana-sini dilentangkan bahwa sastra Indonesia dan derah harus digerakkan di kalangan akademis, seperti mahasiswa dan siswa, sebenarnya ada yang terlupa dari semangat yang meluap-luap itu. Apa yang terlupa? Mereka yang menyokong semangat menggeliatkan sastra di kalangan akademis rupanya agak terlena bahwa hanya anak-anak kota, yang notabene mengenal modernisasi, yang mereka acuhkan.

Seakan-akan kalangan akademis yang tinggal di desa lantas dibiarkan saja utnuk tidak mengenal sastra secara lebih mendalam. Penggerak sastra, secara mayoritas, lebih senang bergiat di antara anak-anak kota. Sebagai contoh, untuk suatu lomba penulisan saja publikasi kebanyakan di internet, sedangkan anak-anak di pedesaan baru mengenal lebih mendalam tentang internet.

Mayoritas anak-anak desa lebih gemar bermain game dan jejaring sosial di internet daripada mencari informasi di internet. Kalaupun mereka mencari informasi lewat internet, paling hanya disuruh oleh guru mereka, dan selebihnya mereka tidak tertarik lagi mencari informasi penting di internet. Lalu bagaimana sastra bisa masuk di jiwa anak-anak ini bila untuk suatu publikasi lomba sastra saja hanya lewat internet?

Budaya sastra di pedesaan masih didominasi oleh sastra lisan. Padahal, hanya kalangan dewasa saja yang mengerti dan menguasai tentang sastra lisan di pedesaan. Ketika internet merambah Indonesia, budaya sastra lisan makin tergulung dalam budaya tulis yang makin berkembang. Apalagi dengan adanya email yang memudahakan mereka mengirim naskah ke media lewat email, lalu dilanjutkan dengan tradisi blog, dan yang termutakhir adalah sastra cyber.

Kalau demikian kenyataannya, tentu aanak pedesaan akan semakin terpuruk dalam hal sastra. Perkembangan sastra di negeri ini janganlah sampai timpang, tetapi haruslah merata. Lalu, pertanyaan terpenting dari pembeberan di atas itu adalah bagaimana sikap kritis para penggerak sastra terhadap kalangan akdemis yang tinggal di pedesaan? Inilah pokok pertanyaan yang ahrus dijawab dengan tindakan nyata sepenuh hati.

Para penggerak sastra ini haruslah sadar dan mau peduli dengan kondisi sastra di pedesaan. Desa adalah suatu wilayah yang memiliki kekayaan kearifan lokal. Sastra sebagai perwujudan dari budaya dari suatu masyarakat harus mampu membantu mengembangkan kearifan lokal tersebut. Sehingga pada nantinya sastra tidak hanya berkembang di daerah perkotaan saja, daerah yang kenyang akan modernisasi, tetapi juga sastra harus berkembang di lahan yang kaya akan kearifan lokal.

Alternatif bagi para penggerak sastra ini salah satunya bisa dilakukan dengan mengadakan workshop tentang penulisan kreatif bagi siswa-siswa di kalangan pedesaan.  Dengan workshop ini diperkenalkan tentang pentingnya menulis, hal-hal apa saja yang menarik dari kegiatan tulis-menulis. Dengan kegiatan ini para siswa juga diperkenalkan dengan dunia sastra. Sehinga nantinya, para siswa itu dapat mengembangkan diri dalam hal sastra secara lebih aktif.

Mau tidak mau inilah tantangan yang harus digarap dengan kepastian yang nyata oleh para penggerak maupun pegiat sastra agar sastra. Kita tentu saja menginginkan masyarakat yang berbudaya bukan masyarakat yang menghamba pada budaya hasil adopsi tanpa seleksi. Melalui penggeliatan sastra di kalangan pedesaan, mari kita bangun bangsa yang berbudaya tinggi bersumber dari kearifan lokal negeri sendiri.

Posted Desember 9, 2010 by btarakawi in Esai

Selintas Gethek   Leave a comment

Melakukan perjalanan merupakan kesenangan tersendiri. Aku senang bila bepergian kemana pun. Bukan tujuan dari perjalanan itu yang membuatku benar-benar gemar melakukan perjalanan, tetapi pemandangan di sekelilinglah yang membuatku menjadi tergila-gila untuk bepergian atau dolan.

Melihat kiri dan kanan yang bervariasi seperti sawah, pekarangan, kebun, atau bahkan jurang, benar-benar memanjakan hatiku. Ada rasa tenang yang terselip di hati dan bila perjalanan usai mungkin euforia kecil terjadi di hatiku.

Kadangkala aku berhenti pada tempat, yang seringnya secara tiba-tiba aku sukai. Kemarin aku dolan ke Purwokerto saat mudik ke Cilacap. Kota kecil di Banyumas ini sering ku kunjungi. Bahkan, aku lebih hafal daerah ini daripada kota Cilacap, tempatku kelahiranku. Maklum saja, dulu aku bersekolah SMA di Banyumas. Jadi aku lebih sering menghabiskan akhir pekanku di kota satria ini.

Ketika ku pacu sepeda motorku menuju Purwokerto, aku terkesima dengan pemandangan sawah yang sedang banjir. Pemandangan itu mengingatkanku akan masa-masa kecilku dulu. Indah nian bila dibanyangkan.

Namun, ku tunda niatku untuk menikmati pemandangan itu. Hari yang gelap sedikit memaksaku untuk melanjutkan perjalanan. Aku tak mau kehujanan dan harus mencuci sepeda motorku (lagi).

Satu jam setelah aku meninggalkan pemandangan yang menakjubkan tadi, aku kembali lagi. Rasanya berlama-lama di Purwokerto tak tepat saat dengan manjanya hatiku menyuruhku untuk sejenak berteduh di tepi sawah yang banjir itu.

Kali ini, di atas motor aku memandang sawah banjir itu. Rasa asri dan damai benar-benar terasai. Ku cuplik ke semua penjurunya, dan ku temui bayang-bayang masa kecilku. Aku jadi ingat dulu sewaktu belum sekolah, aku sering bermain gethekan dengan teman-teman yang kebanyakan juga masih saudara.

Gethek adalah lesung kecil yang digunakan untuk menyusuri perairan. Sdeangkan gethekan adalah nama permainannya. Permainan ini sama dengan seorang nelayan yang menyusuri air dengan sampannya. Hanya saja gethekan dilakukan di sawah.

Masih terdengar dengan jelas tawa-tawa masa kecil kami saat dengan bangganya kami mengayuh gethek. Rasanya kami bak pelaut nusantara yang mengarungi samudra biru luas. Walaupun kadang kami harus dimarahi orang tua karena baju yang kotor, tapi bagi kami taka apa. Kesenangan adalah sesuatu yang tak terbayar dengan uang, tapi kepuasan.

Saat membanyangkan ini, ku dengar laju-laju kendaraan motor di belakangku. Bising juga, tapi masih ku nikmati pemandanagn yang mengingatkanku akan masa kecilku. Namun, deru laju motor mengingatkanku akan perubahan pada wajah suasana di desaku sekarang ini.

Sekarang tidak ada anak kecil yang bernmain gethek lagi. Hadirnya modernisasi dengan perlatan canggih sperti motor telah menyapu kebiasaan di musim penghujan itu. Sekarang anak-anak lebih suka menghabiskan waktu bermainnya dengan playstation, main pc game, bahkan nongkrong-nongkrong di jembatan.

Perubahan rasanya bergitu cepat. Modernisasi hanya menyisakan jejak-jekanya pada perilaku anak-anak di desaku yang cenderung bergaya modern tapi masih dengan pikiran desa. Modernisasi hanya mampu menjangku fisik mereka, bukan batin mereka.

Rasanya gethek yang dulu sebagai tempat berkumpul kami, hanya sebagai kenangan masa lalu yang sislih berganti waktu kian dilupakan. Anak-anak telah berubah. Mereka lebih cepat dewasa saat ini daripada umurnya. Aku senang tapi juga sedih.

Seiring gerimis yang mulai merambat deras, masih tetap aku menyoroti pemanadanagn air keruh, yang luasa dan lugas akan cerita masa lalu. Deras makin tersa, dan ku lajukan diri untuk pulang. Diantara suara padat, di rintikan gerimis, masih ku saksikan bayang masa lalu. Gethekku, gethekmu, dan gethek kita.

Posted Desember 9, 2010 by btarakawi in Memoar

Setasiyun Kroya   Leave a comment

Suwe

Aku ora pethuk rupamu

Rupa akeh kebul

Klebus wangine donya

 

Panggonmu kanggo leren

Wewujudan keker

Sing mlaju banter

Ula dawa nang lemah wesi

 

Rika dadi saksi bisu

Mendhege calon calon cilaka

Calon calon sing bakale dadi warta

 

Ngeden krunguku

Ndeleng laju

Pinggir watu

 

Kroya,             2010

Posted Desember 9, 2010 by btarakawi in Geguritan

Ekalaya: Rungokna Anggraini!   Leave a comment

Anggraini,

Nalika surup prapta,

Elingana kang kinasih

Elingana tembang megatruh iki

Lelagon kang kinocap dening alam

Elingana punjering rasaku,

Nalika pinunujul tinemtu karana pilihing sih

Nalika prigel tanpa daya

Tanpa kuasa ing ngarepe pangrasa

Apa kudu ngobrak-abrik Suralaya

Apa kudu gugat ing ondhar-andhir bawana

Dimen kabeh lelara sirna

Dimen lelakon iki nemahi jati

Samubarang pancen mengku kwasa

Saguh paripaksa

Rudapaksa kalayan kasunyatan kang tinata

Budi satriya tumancep ing tumindake

Punjuling pandhita ing kawicaksanaane

Ning lelakon kang daktemahi iki cidra

Ning tanceping kayon kadi lelayon

Kanggoku

Kanggomu

Kanggo crita kang wis binabar

Dhuh Anggraini,

Tinetepna sakabehing lelara iki

Pangrantunan wus tan kadulu nggegirisi

Raketke tanganmu

Sawijikke pikirmu

Dulunen, Anggraini

Taranggana mencling nyumurupi

Ngawruhi jati jatining jati

 

_BtaraKawi_

Yogya,  Oktober 2010

Posted Desember 9, 2010 by btarakawi in Geguritan

Hello world!   1 comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted Desember 9, 2010 by btarakawi in Uncategorized

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.